Sebelumnya aku tidak mengenal dia. Tapi sepertinya takdir berkehendak
lain dan menuntutku untuk harus mengenalnya. Aku tak tau pasti kenapa
perasaanku selalu tidak karuan jika melihatnya. Perasaan ini berbeda,
tidak seperti biasanya. Aku suka dengan cowo tampan itu. Perawakannya
tinggi, kulitnya putih. dengan rambutnya yang cepak membuat ia terlihat
lebih gagah dan peranginyapun baik. Dia dapat dikatakan perfect untuk
cowo berumur 17 tahun. Dia sangat berbeda dengan teman-teman sebayanya.
Dia cowok yang nggak neko neko, memang dia sedikit cuek tapi ini
membuatku percaya kalau dia itu bukan cowo yang genit tidak seperti cowo
cowo lain yang tidak bisa melihat cewe bening sedikit pun.
Oia namaku Jita Alexandria. Cewek paling bodoh karena menyia nyiakan
cinta sejatiku dengan Cuma Cuma. Pertemuan pertama aku dengannya, saat
sedang nonton dia latihan basket di lapangan. Sebenarnya ini dapat di
katakan pertemuan atau pun kebetulan karena saat itu aku tidak sengaja
melempar bola basket ke kepalanya hingga ia hampir pingsan. Aku
sebenarnya tidak berniat untuk sengaja melempar bola itu ke ke
kepalanya. Aku hanya ingin mengembalikan bola yang keluar dari lapangan,
itu juga bolanya yang keluar tadi hampir mangenai kepala aku tapi
untungnya aku dapat menghindar, mungkin itu karma buat dia yang melempar
bola.
Waktu itu memang aku sangat merasa bersalah kepadanya karena aku
takut kalau dia marah. Tapi ternyata dia hanya tersenyum saat aku
menghampirinya dan meminta maaf. Penilaiannku kepadanya ternyata salah.
Dia sangat ramah dan baik, dia sama sekali tidak marah kepadaku malahan
dia yang meminta kepadaku. Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba dia minta
maaf kepada aku? Apa mungkin lemparan aku tadi membuatnya amnesia. Hmm..
hanya dia yang tau.
Sejak kejadian pelemparan bola basket itu aku jadi makin akrab
dengannya. Aku pun yang sebelumnya tidak tahu siapa namanya. Sekarang
aku sudah tahu. Namanya itu Zanik Kafaro. Keren kan namanya? Sekeren
orangnya juga. Hampir setiap hari aku selalu berangkat sekolah bareng
dengan Zanik. Karena rumahnya masih satu komplek dengan rumahku.
Hubunganku dengan Zanik memang hanya sebatas sahabat. Tapi aku sangat
heran dengan perasaanku sendiri. Perasaanku berkata kalau Zanik itu
adalah cinta senjatiku. Tapi itu tidak boleh terjadi. Walaupun aku suka
dengannya belum tentu juga dia suka denganku. Daripada aku sakit hati
karena cintaku yang nggak tersampaikan, lebih baik aku simpan perasaan
ini saja dulu sampai dia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Nanti sore Zanik mengajak ku menemaninya beli novel. Sebenarnya aku
tidak bisa karena harus mengerjakan tugas sekolah. Tapi Zanik yang
ngajak aku tidak enak kalau menolaknya. Di toko buku Zanik sibuk sekali
mencari novel yang ia cari hingga akhirnya ia mendapatkannya. Zanik lalu
menunjukkan novel yang telah dipilihnya kepadaku. “Ta, novelnya bagus
nih judulnya Friend be Love” Ujar Zanik sambil menunjukkan novelnya
kepadaku. “bagus itu nik, aku udah pernah baca juga itu novelnya” ujarku
sok tahu. Padahal aku tidak pernah baca novel yang ditunjukkan Zanik
tadi. “hah? Kamu udah baca? Aku telat dong padahal kan ini baru
launching kemarin. Kalo gitu aku minjem punya kamu dah ya.” Ujar Zanik
sambil membalikkan badan untuk mengembalikan novel itu ke raknya semula.
Aku kebingungan harus ngomong apa? Kenapa tadi aku harus bohong sama
Zakni tentang novel itu? Ini semua di luar sekenario. ahh Bodoh kamu
Ta!! Bodoh!! . “tunggu dulu Zak, aku baru inget kalau novel aku masih di
pinjam sama sepupuku maaf aku lupa” ucapku menghentikan langkah Zanik
lalu ia membalikkan badan kembali kearah ku. “yah, ya udah gapapa aku
beli ini aja” ujar Zanik bergegas menuju kasir. Huuu.. untung saja aku
bisa ngeles. Terima kasih tuhan telah membantuku walaupun ini sama saja
berbohong. Tapi kalo sekali kali gapapa ding.
Diperjalanan pulang Aku dan Zanik mengisinya dengan obrolan dan juga
canda yang di buat Zanik. Zanik itu ternyata anaknya humoris, sebelumnya
Aku mengira kalau dia itu JAIM tapi.. lagi lagi aku salah menilai
Zanik. Perjalanan pun tidak terasa hingga aku sudah tiba di depan rumah.
Aku lalu pamit pulang ke Zanik dan keluar dari mobil lalu
meninggalkannya.
Di kamar. Seperti biasa anak anak remaja jaman sekarang kalau lagi
seneng menjalani salah satu harinya itu ngapain? Nulis diary? Ya aku
menulis diaryku hari ini. Aku senang sekali bisa jalan bareng Zanik
walaupun sekedar membeli novel, tapi aku nggak peduli. Menurut ku yang
penting aku bisa jalan bareng dengan dia.
Di sekolah..
Aku belum melihat Zanik melintas depan kelas ku. Aku bingung, seharusnya
kan dia sudah lewat sini tapi kenapa dia belum datang juga. Apa mungkin
dia sakit? Bolos? Ah tapi tidak mungkin kalau dia bolos. Ya, iya dia
mungkin sakit hari ini. “GWS ya Zanik” ujar ku dalam hati.
Jam istirahat berbunyi. Aku dan Dila segera meluncur ke kantin. Di
kantin aku melihat Zanik dengan teman-temannya sedang asyik menyantap
bakso yang dipesannya. “Kenapa dia masuk? Kan dia sakit?” tanyaku dalam
hati. Mungkin Zanik tadi telat. “Hmm.. tapi ko nggak seperti biasanya
kalo Zanik telat? Kenapa ya dia?” tanyaku lagi dalam hati. “WOIII
bengong ajah lu Ta” ujar Dila mengejutkanku. “oh nggak papa ko. Ayok ke
sono tuh bangkunya ada yang kosong” ujarku sambil menunjukk bangku
kosong yang berada tiga meter dari bangku Zanik sekarang. Dila tanpa
mengajakku dia dengan cepat menuju bangku itu “ng.. iya udah yuk cepat “
ujar Dila.
Singkat cerita. Hari ini Zanik ulang tahun. Tepatnya ulang tahun yang
ke 17. Aku berniat untuk memberi kejutan untuknya. Tapi aku masih belum
tahu, apa yang harus aku hadiahkan ke Zanik. Aku harus ke tanya siapa?
Oh iya Zidan!! Iya Zidan. Aku harus nanya ke Zidan. Zidan itu sahabat
karibnya Zanik. Pasti dia tau segalnya tentang Zanik.
Aku pun menemui Zidan di lorong koridor yang sedang asyik mencet mencet
tombol BBnya, kayaknya dia lagi BBMan atau mungkin dia lagi sibuk kagak
ngerti main BB. AHH tapi sudahlah. kenapa aku ngebahas masalah nggak
penting gini. Kembali ke topik awal mencari hadiah yang paling disukai
Zanik. Aku segera menghampiri Zidan yang masih kesulitan dengan BBnya.
“Dan, boleh nanya nggak?” ujarku sambil memukul pundak Zidan. “hehh,
apaan ngagetin gua ajah lu dateng dari belakang tiba tiba. Nanya apaan
lu?” ujar Zidan terkejut. Mukanya Zidan kocak abis tadi dikagetin. “ng..
si Zanik ulang tahun ya hari ini?” tanyaku. “lu ko tau? Hmm suka yaa?”
ujar Zidan dengan nada meledek. Wajah Zidan tambah kocak kalo lagi
ngledek. “kagak ko gua mau nanya ajah. Kan gua mau ngasih hadiah ke dia”
ujarku. Percakapan ku dengan Zidan pun selesai dengan keringat yang
meuncurah deras dari wajahku. Bagaimana tidak mau keringatan, Zidan tuh
ternyata batu banget, aku hanya nanya tentang kesukaan Zanik tapi harus
bayar. Bayarnya nggak nanggung nanggung pula, dia buka harga 50 ribu.
Aku kaget hampir membuat jantung ku lompat tiba tiba. Tapi semua dapat
kuatasi dengan baik. Memang mau tidak mau aku harus membayar. Jadi aku
pun membayarnya, tapi hanya bayar 5000. Aku bilang kalo aku ngutang dulu
kapan kapan gantiinnya (zidan terlalu bodoh). Sebenarnya di balik
kebodohannya Zidan itu masih ada kebodohan lagi. Seperti pribahasa
berkata di atas langit masih ada langit.
Aku pergi ke toko pakaian. Aku ingin membelikan Zanik kemeja. Tadi
kata Zidan kemeja ya udah aku ikuti kata kata dia itu walaupun aku masih
ragu ragu. Setelah 1 jam mondar mandir nggak jelas. Akhirnya pilihan ku
tertuju dengan kemeja
Zanik mengajakku hari ini datang ke pesta ulang tahunnya nanti malam
dirumahnya. Aku pun mengacak ngacak seluruh pakaian yang ada di dalam
lemariku. Aku masih bingung mencari pakaian yang pas untuk ku malam ini.
Tapi setelah hampir 1 jam 30 menit aku mencocok cocokkan akhirnya
terpilihlah dress warna merah jambu. Aku pun berangkat ke rumah Zanik
tidak lupa membawa kado ulang tahun yang sudah aku buat sedemikian bagus
untuknya. Aku berharap hadiah ini bakal jadi hadiah terindah untuknya.
Sesampainya di rumah Zanik aku di sambut baik oleh keluarganya
terlihat juga teman teman sekolah ku yang sudah datang lebih awal.
Begitu juga dengan Dila yang sedang asyik ngobrol dengan Zanik. Aku pun
menghampiri Zanik dan Dila. “hey Zan, happy birthday ya semoga panjang
umur sehat selalu moga moga cepet dapet jodoh he he” ujar ku sambil
menyerahkan kado ke Zanik. “wahh terima kasih banyak nih ta” ucap Zanik
sambil merenggut kado yang aku serahkan. “iyaa sama sama Zan” ujar ku
sambil menampang kan senyum semanis mungkin ke arah Zanik.
Acara pun di mulai. Hingga acara tiup lilin dan Pemotongan kue. Zanik
memotong kue ulang tahunnya dengan pisau. Ia pun di suruh oleh semua
orang yang hadir supaya memberikan sepotong kue itu kepada orang yang
istimewa untuknya. Sebenarnya aku sangat berharap kalau Zanik akan
memberikan potongan kue itu kepadaku.
What? Sepertinya impian ku akan terwujud karena Zanik tiba tiba melihat
ke arah ku. Aku salting. Aku nggak bisa gerak sama sekali hingga ia
berjalan menuju tempatku berdiri. Semakin dekat dekat, dekat, dekat,
brukkk! Hatiku hancur jadi 5 bagian karena ternyata sepotong kue itu di
berikan untuk Dila. “Dila? kenapa harus dia sih!!” gerutu ku dalam hati.
Aku yang kecewa dengan Zanik, aku segera meninggalkan acara itu tanpa
pamit terlebih dahulu.
Aku lari tunggang langgang meninggalkan rumah Zanik. Dengan rasa
kekecewaan yang sangat mendalam. Aku kecewa kenapa harus teman ku
sendiri yang menghalangiku untuk mendapatkan pria idaman ku. Aku pun
menyebrang jalan tanpa lihat kanan kiri, tak kusadari dari arah barat
sebuah mobil avanza melaju dengan cepatnya. Aku hanya diam terpaku
melihat mobil itu melaju seakan ada yang menahan ku untuk berlari. Mobil
itu pun semakin dekat. “AWASSSSSSSSS JITAAAAA!” BRAKKK!!! BRUKK!! Aku
terhempas sekitar 10 meter dari tempatku berdiri. Mobil avanza itu kabur
tanpa tanggung jawab setelah menabrakku.
Tangan ku tidak dapat digerakkan sepertinya tanganku patah. Kaki ku
juga berlumuran darah. Tapi Aku masih beruntung karena tidak meninggal
dunia. Seketika aku terkejut dan sangat terkejut. Aku melihat Zanik
tergelepak tak berdaya di tengah jalan dengan kepalanya yang berlumuran
darah. Orang orang yang di dalam rumah berhamburan keluar untuk
menolongku dan Zanik tentunya. Kami di bawa ke rumah sakit terdekat.
Aku tidak percaya ini. Dila tiba tiba menghampiri ku yang sedang di
ruang perawatan dan mengatakan kalau Zanik sudah meninggal. Zanik
terkena pendarahan hebat dikepalanya setelah membentur aspal. Aku tidak
tahu pasti kejadian yang menimpa Zanik tadi karena aku sama sekali tidak
melihat. Apa mungkin Zanik menolong ku? Tapi mana mungkin dia
menolongku.
“Zanik kenapa bisa meninggal? Kenapa Dil?” tanya ku tergesa-gesa.
“Zanik meninggal karena menolong kamu ta, dia lari ke tengah jalan dan
mendorong kamu ke pinggir jalan lalu Zanik tidak sempat menghindari
mobil yang melaju kencang itu akhirnya ia tertabrak” Ujar Dila panjang
lebar. “Jadi gara gara aku? Aku berarti pembunuh?” ujar ku lirih. Air
mata ku pun berlinang di pipiku. “nggak ta, kamu bukan pembunuh. Zanik
melakukan itu ke kamu karena dia sayang sama kamu. Sebenarnya malam
ulang tahunnya ini ia ingin bilang ke kamu kalau dia suka sama kamu tapi
waktu kamu tadi lari meninggalkan kita kita dia langsung mengejarmu
hingga akhirnya ya beginilah ia meninggal”. “tapi bukannya kamu pacarnya
Zanik? Kamu kan tadi”. “Aku pacarnya Zanik? Mana mungkin aku suka sama
dia, dia sering curhat ke aku kalau dia itu suka sama kamu waktu pertama
kali lu berdua ketemu di lapangan basket. Kalo tadi masalah kue? itu
dia sebenarnya ingin ngasih kue nya ke kamu tapi dia masih malu jadi dia
ngasihnya ke aku”. “Jadi semuanya salah paham?” ujar ku dengan wajah
penuh penyesalan. “iyaa itu semua salah paham. Oh iya ini titipan dari
Zanik. Aku pulang dulu ya ta semoga kamu cepat sembuh. dahhh” ujar Dila
sambil meletakkan sebuah kotak hadiah di samping tubuhku yang sedang
berbaring di ranjang dan segera berjalan meninggalkan ku sendiri.
Aku buka kado itu. Isi kado itu ternyata sebuah kotak musik yang bila
di tekan tombolmya akan mengeluarkan bunyi sesuatu. Aku pun menekan
tombol kotak music itu. “Aku sayang kamu Jita kamu mau kan jadi pacar
aku” suara kotak musik itu membuat ku menangis. Aku benar benar menyesal
dengan perbuatanku tadi. Andaikan aku tadi tidak kabur pasti Zanik
tidak mungkin meninggalkan aku untuk selama lamanya. Maafkan aku Zanik..
-TAMAT-
Cerpen Karangan: Paskal Gameryo
kumpulan cerpen
Jumat, 23 Mei 2014
cinta di akhir cerita
Pagi yang cerah, sang surya mengintip dari balik jendelaku. Berbagi
sinar dan senyumnya seakan menyuruhku untuk cepat bangun. Semburat
sinarnya menerpa wajahku yang masih lesu. Dua tetes embun yang masih
tersisa di dahan, menambah kesejukan pagi ini. Aku terbangun dan
mengawali hariku dengan senyuman. Ku lirik jam wekerku yang menunjukkan
pukul 05.30 WIB. Aku bersiap ke kamar mandi. Setelah semua selesai, aku
mengenakan seragam putih abu-abu ku dan bersiap ke sekolah.
Pukul 06.30, aku sampai di sekolah. Hari ini tepat tanggal 19 Maret adalah hari ulang tahunku. “Hai Karin..!” suara seseorang mengagetkan ku. “Karin, happy birthday yah.. semoga tambah pinter, baik, cantik dan gak jail lagi”, ucap Nadya. yah dia sahabat ku. Aku selalu bersamanya kemanapun aku pergi. Dia lucu, cantik dan sangat feminim. “hhhmm.. iya makasih Nadya jelek” ledekku. “aahh.. selalu saja, memangnya aku jelek banget ya rin..?” Tanya nadya polos. “hahahaha.. kau ini”. Jawabku sambil mengacak-acak rambut lurusnya.
Yah, namaku Karin, aku tinggal bersama mama ku di sebuah rumah yang cukup besar. Ayahku meninggal sejak aku masih berumur 5 tahun. Saat ini, hidupku cukup menyenangkan dan semua kebutuhanku terpenuhi, semua ini berkat peninggalan ayah. Dia mewariskan hartanya kepada aku dan mama. Tapi hal itu tak membuat ku manja dan terlalu bersenang senang dengan harta peninggalan ayahku. Sifat ku cuek, agak sedikit tomboy, dan katanya sih jahil.
Setelah itu kita langsung menuju kelas masing-masing. Ya, memang kelasku dan Nadya berbeda. Dia menempati kelas XII IPA 1 sedangkan aku menempati kelas XII IPA 2. Aku duduk di kursi yang biasa aku tempati. Sunyi, sepi, begitulah suasana pada pagi itu. Aku membuka-buka buku yang akan aku pelajari pada hari itu. Lembar demi lembar aku buka, berderet angka pun memenuhi otakku. Tiba-tiba kepalaku pusing, pening dan semuanya terasa gelap. Tapi untunglah saat itu aku tidak sampai pingsan. Memang akhir-akhir ini aku sering merasakan pusing yang sangat hebat, tapi anehnya rasa sakit yang hampir membuatku pingsan itu tidak bertahan lama.
Satu-persatu teman-teman sekelasku datang. Di kelas aku juga punya beberapa sahabat, mereka Andra, Leo, Ozy dan Stuart. Yah mereka semua laki-laki. Aku rasa mereka tidak akan ingat hari spesial ku. “ugh.. mereka pasti tidak akan mengingatnya..” gumamku dalam hati. Seperti biasa kita bercanda bersama. Andra, dia paling lucu di antara kita. Kekonyolannya lah yang membuat semua tertawa. Leo, dia anaknya pintar dan berbakat dalam bidang musik. Ozy, dia keren dan banyak teman-teman di sekolah yang menyukainya. Stuart, dia lahir di Amerika dan pindah ke Indonesia sejak dia duduk di bangku sekolah dasar, dia agak pendiam. Karakter kita memang berbeda tapi perbedaan itulah yang membuat warna di hidup kita.
Krriinngg… kkrriinngg… kkrriinngg…
Suara bel pun berbunyi. Tak terasa hari ini berlalu begitu cepat. Dan memang benar sahabat-sahabat ku tak kan ingat hari ulang tahunku. Aku bergegas melangkahkan kaki kecilku untuk segera pulang. Tapi.. “Happy birthday karin.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday Karin..”. Hah suara itu. Ternyata aku salah, sekarang di belakangku sudah ada leo, andra, nadya, ozy dan stuart. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun dan berhasil membuat ku kaget. “happy birthday Karin.. sorry yah kita telat ngucapinnya. Kita sengaja kok ngucapin yang terakhir karena kita mau bikin kejutan buat loe. Mungkin kita gak bisa ngasih apa-apa ke loe, tapi gue harap persahabatan yang udah kita jalani bisa menjadi kado yang terindah di hidup loe. Wish you all the best Karin, kita semua sayang loe” ucap leo, dengan sebuah kue tart di tangannya. Aku terharu mendengar kalimat yang keluar dari mulut leo. “bagi gue.. ada 2 hal yang terindah di hidup gue.. yang pertama gue punya mama yang hebat dan yang kedua gue udah kenal kalian semua karena kalian bagian hidup gue yang begitu berharga. Makasih buat semuanya”. Ucap ku dan semua sahabat-sahabatku memelukku.
Seminggu kemudian, ujian akhir semester pun dimulai. Aku berusaha keras untuk menjadi yang terbaik. Hari pertama berjalan dengan lancar. “hei rin… gimana tadi ujiannya?” Tanya Leo. “eh leo.. yah Alhamdulillah lancar.” Jawabku sambil duduk di bangku taman sekolahku bersama Leo. Beberapa menit kemudian, Ozy, Andra, Stuart dan Nadya juga bergabung. “eh guys.. gimana nanti kalU kita belajar bareng, gue kan agak lemot nih di bidang MTK, nanti kan kita bisa diskusi sama leo si jago MTK..” usul Nadya. Ya, memang aku dan Nadya agak “lemot” di bidang matematika, dan Leo lah jagonya di antara kita ber-6. “ide bagus tuh nad..” jawab Andra dan Ozy. “gimana loe mau kan Leo?” tanyaku, sambil berharap Leo bisa. “OK… Ok.. gue bisa kok.. eemm dimana nih nanti kita ngumpulnya?” Tanya leo. “di rumah Karin aja.. rumah Karin kan gede tuh.. pasti bisa nampung kita semua” usul Stuart. “boleh.. ide bagus tuh.. nanti kita kumpul jam…” Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, aku mulai merasa pusing bahkan hampir pingsan. Benda cair mengalir dari hidungku, merah pekat. Seketika aku terkejut, aku belum pernah mimisan sebelumnya. “Astaga, Karin.. kamu kenapa?” Tanya Leo sambil memegangi tubuhku dan berusaha menghentikan darah yang mengalir dari hidung ku. “Karin kita ke rumah sakit ya..” ajak Nadya, Stuart, Ozy dan Andra yang khawatir dngan keadaanku. “gak usah guys.. gue gak pa pa kok. Nad.. antar gue ke kamar mandi yah” pintaku kepada Nadya. Aku segera membersihkan hidungku yang penuh dengan darah. setelah itu Leo mengantarku pulang.
Sesampainya di rumah, mama terkejut melihat wajahku yang pucat dan terdapat beberapa bekas darah yang menempel di bajuku. “ya ampun Karin.. kamu kenapa sayang?” Tanya mama dengan nada cemas. “gak pa pa kok ma.. Karin cuma kecapean aja” jawabku. “tante, tadi Karin mimisan di sekolah, kita udah ngebujuk Karin buat ke rumah sakit, tapi Karin nolak.” Ucap Leo menjelaskan. “iya nak Leo.. makasih ya udah nganter Karin pulang” ucap mama sambil tersenyum. “iya tante sama-sama.. kalau gitu Leo pulang dulu tante” Leo berpamitan pulang dan langsung menancap gas mobilnya.
Sore harinya, Stuart, Ozy, Andra, Nadya dan Leo ke rumahku. Bukan untuk belajar bersama, tapi mereka ingin melihat keadaanku. “hai Karin.. gimana udah baikan?” Tanya Nadya padaku. Aku yang masih terbaring di tempat tidur segera bangkit mensejajarkan tubuhku dengan mereka. “Iya gak pa pa kok.. gue udah baikan nad, oh ya gue hampir lupa nih kalau kita mau belajar bareng” jawabku sambil beranjak dari tempat tidur dan mengambil buku-buku pelajaran. “Karin.. kita kesini bukan mau belajar. Kita mau lihat keadaan loe, kita mau main sama loe.. mendingan loe taruh lagi buku loe yah” jawab Leo dan meyuruhku unuk kembali ke tempat tidur. Kita semua bercanda bersama, rasa sakitku seketika hilang. Keadaanku sekarang lebih baik dari sebelumnya karena kedatangan mereka. Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka pamit untuk pulang.
Keesokan harinya, aku bersiap untuk pergi ke sekolah untuk melaksanakan ujian dan syukurlah selama 2 hari ujian ku lancar, tanpa ada darah dan pusing. Di hari ketiga aku melaksanakan ujian. Aku mengerjakan berderet angka soal yang telah menunggu untuk ku kerjakan. Tiba-tiba tangan ku sulit untuk kugerakkan, seperti membeku. Entah apa yang kurasa saat itu. Sakit? bukan… bukan sakit. Khawatir.. yah aku khawatir tidak bisa menyelesaikan soal-soal ini. “Tuhan, bantu aku.. kenapa tanganku? Jika kau ingin mengambil tanganku, jangan sekarang. Ijinkan aku menyelesaikan soal-soal ini.” Aku berdoa dalam hati. Menenangkan pikiranku dan berusaha menggerakkan tangan ini kembali. Ah, syukurlah.. memang kebesaran Tuhan, aku bisa menggerakkan tanganku kembali dan segera menyelesaikan soal-soal ini.
Aku tak menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun. Termasuk mama dan sahabat-sahabat ku. Aku takut, aku takut mereka terlalu khawatir akan keadaanku. Setelah bel pulang berbunyi, aku langsung menuju tempat parkir dan segera pulang. Aku tak berani menemui sahabat-sahabat ku, aku perlu menenangkan diri.
Setelah kejadian di taman sekolah tersebut, aku jadi sering mimisan. Darah yang keluar pun cukup banyak. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Mama yang melihat hidungku penuh dengan darah, sangat khawatir dan memutuskan untuk membawa ku ke Rumah Sakit. Dia membawaku ke rumah sakit ternama di kotaku. Entah mengapa, baru kali ini aku merasa takut untuk pergi ke rumah sakit. Perjalanan menuju rumah sakit tidak terlalu banyak memakan waktu, sekitar 1 jam kita telah sampai di rumah sakit tersebut. aku dan mama segera menemui Dr. Annisa dan langsung menuju ke ruangannya. Mama mengetuk pintu “tok.. tok.. tok..”.
“iya silahkan masuk.” Suara samar-samar terdengar dari dalam ruangan. “silahkan duduk Ibu Ambar.” Dr. Annisa mempersilahkan aku dan mama untuk duduk. Mama dan Dr. Annisa memang cukup akrab, karena Dr. Annisa bisa dibilang dokter keluarga kami. “dok, Karin akhir-akhir ini sering mimisan, dan kepalanya sering pusing” mama memulai konsultasi. “Karin, apa ada keluhan lain?” Tanya dokter annisa kepadaku. “I.. iya dok.. kemarin tangan Karin susah digerakin” jawabku gugup, karena mama tidak mengetahui hal ini. “bu ambar sebaiknya kita periksa lebih lanjut keadaan Karin.” Jawab dokter Annisa.
Aku menuju ruangan yang serba berwarna putih, alat itu, aku tak tahu alat apa yang digunakan untuk melihat isi di dalam kepalaku. Tanganku dingin, aku takut. Akhirnya pemeriksaan ini berakhir sudah, aku diijinkan keluar dari ruangan itu. “Bu ambar, sebaiknya kita harus bicara, Karin.. kamu keluar dulu ya, dokter masih mau berbicara dengan mama mu” pinta Dr. Annisa. “baik dok” jawabku singkat. Aku mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan Dr. annisa dengan mama, ini tentang penyakitku kenapa aku harus keluar? ada apa sebenarnya? pertanyaan-pertanyaan itu mengantri untuk menunggu jawaban di otakku. Aku tak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, suara dari dalam hanya terdengar samar-samar.
“Karin.. ayo kita pulang sayang..” suara mama mengagetkanku. “ma, gimana sama keadaan Karin? apa yang dokter annisa bilang ma?” tanyaku pada mama. “gak pa pa kok sayang, Karin cuma kecapean.. Karin istirahat ya” jawab mama. Sebenarnya aku masih penasaran apa yang terjadi, tapi ya sudahlah aku tak mau memikirkan ini terlalu dalam.
Drrtt.. ddrrtt.. ddrrtt..
aku lirik handphoneku yang ada di sampingku.
1 message received
Karin, sekarang loe bisa gak ke taman? ada yang mau gue omongin.
LEO
“leo.. tumben dia ngajak ke taman malem-malem”, pikirku dalam hati. Aku segera membalas pesan yang dikirim Leo.
To : Leo
Ya udah, gue bisa kok. Tunggu gue
KARIN
Aku segera mengambil jaket dan kunci mobil. “Karin mau kemana?” Tanya mama yang menghentikan langkahku. “ini ma, Karin mau ke taman.. mau ketemu Leo” jawabku. “Karin kamu harus istirahat, kamu harus jaga kesehatan kamu” jawab mama sedikit agak tegas. “tapi ma, Karin udah janji sama leo, Karin udah gak pa pa kok ma, mama tenang aja yah.. please” aku memasang muka melasku di depan mama. Akhirnya mama mengijinkan ku untuk pergi.
“hei leo.. udah lama nunggu? sorry ya gue telat, tadi mama sempet gak ngijinin..” ucapku sambil menghampiri leo. “iya rin gak pa pa kok, oh ya gue seneng loe datang malam ini, gue mau ngomong sesuatu sama loe” jawab leo seraya memegang tanganku. “iya, ngomong aja..” jawabku singkat. “Karin.. sebenernya gue suka sama loe. Selama ini gue gak bisa ngungkapin ke loe karena gue gak mau ngerusak persahabatan kita, dan gue takut… gue takut kalau loe tahu, loe bakal ngejauhin gue.” Ucap leo sambil menatap mataku. Aku tak tahu harus menjawab apa, sebenarnya aku juga suka sama dia..
“leo.. kamu sadar apa yang kamu bilang tadi? Kamu serius?” jawabku. “aku serius rin..?” jawab leo pasti. “sebenarnya aku juga suka sama kamu… tapi apa sahabat-sahabat kita yang lain mau nerima hubugan kita?” jawabku ragu. “mereka pasti setuju rin, karena kita akan selalu dukung satu sama lain, kamu inget janji kita kan?” jawab leo meyakinkan ku.
Malam itulah malam yang paling bahagia bagiku. Aku bisa bersama orang yang aku cintai. Perasaan yang selama ini tak pernah kurasakan setelah kepergian ayah. Hari-hari yang aku lewati kini terasa lebih menyenangkan dengan perubahan statusku dengan Leo. Dan kabar baiknya lagi sahabat-sahabat ku yang lain juga mendukung hubunganku dengan Leo. Aku sangat menyayanginya, dia sebagai pengganti sosok ayah yang selalu melindungi ku.
Semakin hari aku merasakan ada yang tidak enak dengan tubuhku. Tanganku sering tidak bisa digerakkan dan kepala ku menjadi sering pusing. Saat aku menanyakan penyakitku pada mama, dia hanya diam tak mampu menjawab pertanyaanku. Hingga suatu hari, keadaanku semakin memburuk. Wajahku pucat, darah yang keluar dari hidungku juga semakin banyak dan tak bisa lagi dibendung. Mama membawa ke rumah sakit dan aku harus dirawat inap. Leo dan sahabat-sahabat ku menjengukku memberi ku kekuatan.
Hari berganti hari, mama yang melihat kondisiku sangat sedih dan mungkin dia tak tega menyembunyikan semua ini padaku. Ternyata selama ini aku mengidap penyakit kanker. Aku tahu, umurku tidak akan lama lagi. Tubuhku semakin kurus, dan wajahku pun sangat pucat. Satu-satunya jalan yang dilakukan aku harus di cemoterapy. Sakit memang, bahkan sangat sakit. Tapi aku terus berjuang melawan rasa sakit itu. Leo yang tahu dengan keadaanku yang sebenarnya, semakin memperhatikanku. Aku tak tega melihatnya, aku tak mau dia punya kekasih sepertiku. Aku mencoba memintanya memutuskan hubungan denganku, tetapi dia tetap bersikeras untuk tetap bersamaku. Nadya, Ozy, Andra, dan Stuart selalu meyemangatiku. “guys, kalian gak boleh sedih ya. Kalau suatu saat nanti gue harus pergi, gue nitip mama gue. jagain dia ya guys.” Ucapku. “Karin, kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu harus jagain mama kamu sendiri, kamu pasti sembuh Karin.” Jawab Nadya sambil memelukku. “Leo, aku sayang kamu. Aku gak mau kamu terpuruk dan malu karena punya pacar yang penyakitan kayak aku. Kamu harus cari yang lain, kamu harus bahagia leo.” Ucapku sambil meneteskan air mataku. “enggak rin, kamu yang bisa buat aku bahagia, hanya kamu.” Jawab leo mantap.
Aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan. Aku menulis di buku harian ku, aku tak mau ada air mata, aku hanya bisa menuliskan perasaanku di diary ku ini. Kini keadaanku sangat memburuk. Tubuhku tak mau lagi berkompromi. Organ-organ tubuhku menolak untuk diberi obat. Darah segar selalu mengalir dari hidungku. rambutku sekarang juga semakin sedikit. ‘Tuhan, aku rela jika kau ambil nyawaku sekarang’ gumamku dalam hati. Tiba-tiba semuanya gelap, aku melihat seberkas cahaya putih disana. Mataku mulai terpejam dan… selamat tinggal mama.
“Karin, kita menyayangimu, kenapa kamu cepet banget ninggalin kita” ucap nadya. Aku sangat mencintaimu rin. Dan sekarang kamu tidak perlu merasakan sakit itu lagi. “nak leo, sebelum Karin meninggal, Karin nitip surat ini ke tante.” Ucap tante Ambar, mama Karin. Aku membuka surat itu dengan hati-hati. Aku, Nadya, Ozy, Stuart dan Andra membaca surat itu.
Dear my best friend
Sebelumnya terimakasih sudah memberi warna di hidupku
suatu kebahagiaan yang luar biasa mengenal kalian
aku sangat menyayangi kalian…
saat raga ini tak mampu lagi menopang tubuhku…
kalian datang untuk menopangnya
ketika tubuhku melemah, kalian datang memberi tumpuan agar aku tetap mampu untuk berpijak
saat nafas ini tak lagi bersama ku, aku ingin kalian tetap tersenyum
karena satu hal yang harus kalian tahu, aku selalu di hati kalian?
Leo, terimakasih telah memberi warna yang berbeda di hidupku
telah mengijinkan ku merasakan apa itu cinta
aku menyayangimu, mencintaimu setulus hati
dan maaf aku belum bisa memberi yang terbaik untukmu
carilah wanita yang lebih sempurna di luar sana
aku selalu di hatimu…
o iya guys, aku boleh minta 1 permintaan gak
jaga mama baik-baik yah, aku percaya kepada kalian
hanya itu permintaanku
Terimakasih..
Aku tak mampu membendung air mataku. ‘aku janji rin, aku akan jaga tante ambar baik-baik, aku janji’ gumamku dalam hati. Aku mengantar Karin ke peristirahatan terakhirnya. Aku yakin, dia pasti tenang sekarang, dan aku masih bisa melihat pancaran senyumnya. ‘aku mencintaimu Karin..’ ucapku untuk yang terakhir kalinya.
Selesai
Cerpen Karangan: Silvia S.
Pukul 06.30, aku sampai di sekolah. Hari ini tepat tanggal 19 Maret adalah hari ulang tahunku. “Hai Karin..!” suara seseorang mengagetkan ku. “Karin, happy birthday yah.. semoga tambah pinter, baik, cantik dan gak jail lagi”, ucap Nadya. yah dia sahabat ku. Aku selalu bersamanya kemanapun aku pergi. Dia lucu, cantik dan sangat feminim. “hhhmm.. iya makasih Nadya jelek” ledekku. “aahh.. selalu saja, memangnya aku jelek banget ya rin..?” Tanya nadya polos. “hahahaha.. kau ini”. Jawabku sambil mengacak-acak rambut lurusnya.
Yah, namaku Karin, aku tinggal bersama mama ku di sebuah rumah yang cukup besar. Ayahku meninggal sejak aku masih berumur 5 tahun. Saat ini, hidupku cukup menyenangkan dan semua kebutuhanku terpenuhi, semua ini berkat peninggalan ayah. Dia mewariskan hartanya kepada aku dan mama. Tapi hal itu tak membuat ku manja dan terlalu bersenang senang dengan harta peninggalan ayahku. Sifat ku cuek, agak sedikit tomboy, dan katanya sih jahil.
Setelah itu kita langsung menuju kelas masing-masing. Ya, memang kelasku dan Nadya berbeda. Dia menempati kelas XII IPA 1 sedangkan aku menempati kelas XII IPA 2. Aku duduk di kursi yang biasa aku tempati. Sunyi, sepi, begitulah suasana pada pagi itu. Aku membuka-buka buku yang akan aku pelajari pada hari itu. Lembar demi lembar aku buka, berderet angka pun memenuhi otakku. Tiba-tiba kepalaku pusing, pening dan semuanya terasa gelap. Tapi untunglah saat itu aku tidak sampai pingsan. Memang akhir-akhir ini aku sering merasakan pusing yang sangat hebat, tapi anehnya rasa sakit yang hampir membuatku pingsan itu tidak bertahan lama.
Satu-persatu teman-teman sekelasku datang. Di kelas aku juga punya beberapa sahabat, mereka Andra, Leo, Ozy dan Stuart. Yah mereka semua laki-laki. Aku rasa mereka tidak akan ingat hari spesial ku. “ugh.. mereka pasti tidak akan mengingatnya..” gumamku dalam hati. Seperti biasa kita bercanda bersama. Andra, dia paling lucu di antara kita. Kekonyolannya lah yang membuat semua tertawa. Leo, dia anaknya pintar dan berbakat dalam bidang musik. Ozy, dia keren dan banyak teman-teman di sekolah yang menyukainya. Stuart, dia lahir di Amerika dan pindah ke Indonesia sejak dia duduk di bangku sekolah dasar, dia agak pendiam. Karakter kita memang berbeda tapi perbedaan itulah yang membuat warna di hidup kita.
Krriinngg… kkrriinngg… kkrriinngg…
Suara bel pun berbunyi. Tak terasa hari ini berlalu begitu cepat. Dan memang benar sahabat-sahabat ku tak kan ingat hari ulang tahunku. Aku bergegas melangkahkan kaki kecilku untuk segera pulang. Tapi.. “Happy birthday karin.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday Karin..”. Hah suara itu. Ternyata aku salah, sekarang di belakangku sudah ada leo, andra, nadya, ozy dan stuart. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun dan berhasil membuat ku kaget. “happy birthday Karin.. sorry yah kita telat ngucapinnya. Kita sengaja kok ngucapin yang terakhir karena kita mau bikin kejutan buat loe. Mungkin kita gak bisa ngasih apa-apa ke loe, tapi gue harap persahabatan yang udah kita jalani bisa menjadi kado yang terindah di hidup loe. Wish you all the best Karin, kita semua sayang loe” ucap leo, dengan sebuah kue tart di tangannya. Aku terharu mendengar kalimat yang keluar dari mulut leo. “bagi gue.. ada 2 hal yang terindah di hidup gue.. yang pertama gue punya mama yang hebat dan yang kedua gue udah kenal kalian semua karena kalian bagian hidup gue yang begitu berharga. Makasih buat semuanya”. Ucap ku dan semua sahabat-sahabatku memelukku.
Seminggu kemudian, ujian akhir semester pun dimulai. Aku berusaha keras untuk menjadi yang terbaik. Hari pertama berjalan dengan lancar. “hei rin… gimana tadi ujiannya?” Tanya Leo. “eh leo.. yah Alhamdulillah lancar.” Jawabku sambil duduk di bangku taman sekolahku bersama Leo. Beberapa menit kemudian, Ozy, Andra, Stuart dan Nadya juga bergabung. “eh guys.. gimana nanti kalU kita belajar bareng, gue kan agak lemot nih di bidang MTK, nanti kan kita bisa diskusi sama leo si jago MTK..” usul Nadya. Ya, memang aku dan Nadya agak “lemot” di bidang matematika, dan Leo lah jagonya di antara kita ber-6. “ide bagus tuh nad..” jawab Andra dan Ozy. “gimana loe mau kan Leo?” tanyaku, sambil berharap Leo bisa. “OK… Ok.. gue bisa kok.. eemm dimana nih nanti kita ngumpulnya?” Tanya leo. “di rumah Karin aja.. rumah Karin kan gede tuh.. pasti bisa nampung kita semua” usul Stuart. “boleh.. ide bagus tuh.. nanti kita kumpul jam…” Belum sempat aku melanjutkan perkataanku, aku mulai merasa pusing bahkan hampir pingsan. Benda cair mengalir dari hidungku, merah pekat. Seketika aku terkejut, aku belum pernah mimisan sebelumnya. “Astaga, Karin.. kamu kenapa?” Tanya Leo sambil memegangi tubuhku dan berusaha menghentikan darah yang mengalir dari hidung ku. “Karin kita ke rumah sakit ya..” ajak Nadya, Stuart, Ozy dan Andra yang khawatir dngan keadaanku. “gak usah guys.. gue gak pa pa kok. Nad.. antar gue ke kamar mandi yah” pintaku kepada Nadya. Aku segera membersihkan hidungku yang penuh dengan darah. setelah itu Leo mengantarku pulang.
Sesampainya di rumah, mama terkejut melihat wajahku yang pucat dan terdapat beberapa bekas darah yang menempel di bajuku. “ya ampun Karin.. kamu kenapa sayang?” Tanya mama dengan nada cemas. “gak pa pa kok ma.. Karin cuma kecapean aja” jawabku. “tante, tadi Karin mimisan di sekolah, kita udah ngebujuk Karin buat ke rumah sakit, tapi Karin nolak.” Ucap Leo menjelaskan. “iya nak Leo.. makasih ya udah nganter Karin pulang” ucap mama sambil tersenyum. “iya tante sama-sama.. kalau gitu Leo pulang dulu tante” Leo berpamitan pulang dan langsung menancap gas mobilnya.
Sore harinya, Stuart, Ozy, Andra, Nadya dan Leo ke rumahku. Bukan untuk belajar bersama, tapi mereka ingin melihat keadaanku. “hai Karin.. gimana udah baikan?” Tanya Nadya padaku. Aku yang masih terbaring di tempat tidur segera bangkit mensejajarkan tubuhku dengan mereka. “Iya gak pa pa kok.. gue udah baikan nad, oh ya gue hampir lupa nih kalau kita mau belajar bareng” jawabku sambil beranjak dari tempat tidur dan mengambil buku-buku pelajaran. “Karin.. kita kesini bukan mau belajar. Kita mau lihat keadaan loe, kita mau main sama loe.. mendingan loe taruh lagi buku loe yah” jawab Leo dan meyuruhku unuk kembali ke tempat tidur. Kita semua bercanda bersama, rasa sakitku seketika hilang. Keadaanku sekarang lebih baik dari sebelumnya karena kedatangan mereka. Setelah berbincang-bincang cukup lama, mereka pamit untuk pulang.
Keesokan harinya, aku bersiap untuk pergi ke sekolah untuk melaksanakan ujian dan syukurlah selama 2 hari ujian ku lancar, tanpa ada darah dan pusing. Di hari ketiga aku melaksanakan ujian. Aku mengerjakan berderet angka soal yang telah menunggu untuk ku kerjakan. Tiba-tiba tangan ku sulit untuk kugerakkan, seperti membeku. Entah apa yang kurasa saat itu. Sakit? bukan… bukan sakit. Khawatir.. yah aku khawatir tidak bisa menyelesaikan soal-soal ini. “Tuhan, bantu aku.. kenapa tanganku? Jika kau ingin mengambil tanganku, jangan sekarang. Ijinkan aku menyelesaikan soal-soal ini.” Aku berdoa dalam hati. Menenangkan pikiranku dan berusaha menggerakkan tangan ini kembali. Ah, syukurlah.. memang kebesaran Tuhan, aku bisa menggerakkan tanganku kembali dan segera menyelesaikan soal-soal ini.
Aku tak menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun. Termasuk mama dan sahabat-sahabat ku. Aku takut, aku takut mereka terlalu khawatir akan keadaanku. Setelah bel pulang berbunyi, aku langsung menuju tempat parkir dan segera pulang. Aku tak berani menemui sahabat-sahabat ku, aku perlu menenangkan diri.
Setelah kejadian di taman sekolah tersebut, aku jadi sering mimisan. Darah yang keluar pun cukup banyak. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Mama yang melihat hidungku penuh dengan darah, sangat khawatir dan memutuskan untuk membawa ku ke Rumah Sakit. Dia membawaku ke rumah sakit ternama di kotaku. Entah mengapa, baru kali ini aku merasa takut untuk pergi ke rumah sakit. Perjalanan menuju rumah sakit tidak terlalu banyak memakan waktu, sekitar 1 jam kita telah sampai di rumah sakit tersebut. aku dan mama segera menemui Dr. Annisa dan langsung menuju ke ruangannya. Mama mengetuk pintu “tok.. tok.. tok..”.
“iya silahkan masuk.” Suara samar-samar terdengar dari dalam ruangan. “silahkan duduk Ibu Ambar.” Dr. Annisa mempersilahkan aku dan mama untuk duduk. Mama dan Dr. Annisa memang cukup akrab, karena Dr. Annisa bisa dibilang dokter keluarga kami. “dok, Karin akhir-akhir ini sering mimisan, dan kepalanya sering pusing” mama memulai konsultasi. “Karin, apa ada keluhan lain?” Tanya dokter annisa kepadaku. “I.. iya dok.. kemarin tangan Karin susah digerakin” jawabku gugup, karena mama tidak mengetahui hal ini. “bu ambar sebaiknya kita periksa lebih lanjut keadaan Karin.” Jawab dokter Annisa.
Aku menuju ruangan yang serba berwarna putih, alat itu, aku tak tahu alat apa yang digunakan untuk melihat isi di dalam kepalaku. Tanganku dingin, aku takut. Akhirnya pemeriksaan ini berakhir sudah, aku diijinkan keluar dari ruangan itu. “Bu ambar, sebaiknya kita harus bicara, Karin.. kamu keluar dulu ya, dokter masih mau berbicara dengan mama mu” pinta Dr. Annisa. “baik dok” jawabku singkat. Aku mencoba mendengarkan apa yang dibicarakan Dr. annisa dengan mama, ini tentang penyakitku kenapa aku harus keluar? ada apa sebenarnya? pertanyaan-pertanyaan itu mengantri untuk menunggu jawaban di otakku. Aku tak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, suara dari dalam hanya terdengar samar-samar.
“Karin.. ayo kita pulang sayang..” suara mama mengagetkanku. “ma, gimana sama keadaan Karin? apa yang dokter annisa bilang ma?” tanyaku pada mama. “gak pa pa kok sayang, Karin cuma kecapean.. Karin istirahat ya” jawab mama. Sebenarnya aku masih penasaran apa yang terjadi, tapi ya sudahlah aku tak mau memikirkan ini terlalu dalam.
Drrtt.. ddrrtt.. ddrrtt..
aku lirik handphoneku yang ada di sampingku.
1 message received
Karin, sekarang loe bisa gak ke taman? ada yang mau gue omongin.
LEO
“leo.. tumben dia ngajak ke taman malem-malem”, pikirku dalam hati. Aku segera membalas pesan yang dikirim Leo.
To : Leo
Ya udah, gue bisa kok. Tunggu gue
KARIN
Aku segera mengambil jaket dan kunci mobil. “Karin mau kemana?” Tanya mama yang menghentikan langkahku. “ini ma, Karin mau ke taman.. mau ketemu Leo” jawabku. “Karin kamu harus istirahat, kamu harus jaga kesehatan kamu” jawab mama sedikit agak tegas. “tapi ma, Karin udah janji sama leo, Karin udah gak pa pa kok ma, mama tenang aja yah.. please” aku memasang muka melasku di depan mama. Akhirnya mama mengijinkan ku untuk pergi.
“hei leo.. udah lama nunggu? sorry ya gue telat, tadi mama sempet gak ngijinin..” ucapku sambil menghampiri leo. “iya rin gak pa pa kok, oh ya gue seneng loe datang malam ini, gue mau ngomong sesuatu sama loe” jawab leo seraya memegang tanganku. “iya, ngomong aja..” jawabku singkat. “Karin.. sebenernya gue suka sama loe. Selama ini gue gak bisa ngungkapin ke loe karena gue gak mau ngerusak persahabatan kita, dan gue takut… gue takut kalau loe tahu, loe bakal ngejauhin gue.” Ucap leo sambil menatap mataku. Aku tak tahu harus menjawab apa, sebenarnya aku juga suka sama dia..
“leo.. kamu sadar apa yang kamu bilang tadi? Kamu serius?” jawabku. “aku serius rin..?” jawab leo pasti. “sebenarnya aku juga suka sama kamu… tapi apa sahabat-sahabat kita yang lain mau nerima hubugan kita?” jawabku ragu. “mereka pasti setuju rin, karena kita akan selalu dukung satu sama lain, kamu inget janji kita kan?” jawab leo meyakinkan ku.
Malam itulah malam yang paling bahagia bagiku. Aku bisa bersama orang yang aku cintai. Perasaan yang selama ini tak pernah kurasakan setelah kepergian ayah. Hari-hari yang aku lewati kini terasa lebih menyenangkan dengan perubahan statusku dengan Leo. Dan kabar baiknya lagi sahabat-sahabat ku yang lain juga mendukung hubunganku dengan Leo. Aku sangat menyayanginya, dia sebagai pengganti sosok ayah yang selalu melindungi ku.
Semakin hari aku merasakan ada yang tidak enak dengan tubuhku. Tanganku sering tidak bisa digerakkan dan kepala ku menjadi sering pusing. Saat aku menanyakan penyakitku pada mama, dia hanya diam tak mampu menjawab pertanyaanku. Hingga suatu hari, keadaanku semakin memburuk. Wajahku pucat, darah yang keluar dari hidungku juga semakin banyak dan tak bisa lagi dibendung. Mama membawa ke rumah sakit dan aku harus dirawat inap. Leo dan sahabat-sahabat ku menjengukku memberi ku kekuatan.
Hari berganti hari, mama yang melihat kondisiku sangat sedih dan mungkin dia tak tega menyembunyikan semua ini padaku. Ternyata selama ini aku mengidap penyakit kanker. Aku tahu, umurku tidak akan lama lagi. Tubuhku semakin kurus, dan wajahku pun sangat pucat. Satu-satunya jalan yang dilakukan aku harus di cemoterapy. Sakit memang, bahkan sangat sakit. Tapi aku terus berjuang melawan rasa sakit itu. Leo yang tahu dengan keadaanku yang sebenarnya, semakin memperhatikanku. Aku tak tega melihatnya, aku tak mau dia punya kekasih sepertiku. Aku mencoba memintanya memutuskan hubungan denganku, tetapi dia tetap bersikeras untuk tetap bersamaku. Nadya, Ozy, Andra, dan Stuart selalu meyemangatiku. “guys, kalian gak boleh sedih ya. Kalau suatu saat nanti gue harus pergi, gue nitip mama gue. jagain dia ya guys.” Ucapku. “Karin, kamu gak boleh ngomong gitu. Kamu harus jagain mama kamu sendiri, kamu pasti sembuh Karin.” Jawab Nadya sambil memelukku. “Leo, aku sayang kamu. Aku gak mau kamu terpuruk dan malu karena punya pacar yang penyakitan kayak aku. Kamu harus cari yang lain, kamu harus bahagia leo.” Ucapku sambil meneteskan air mataku. “enggak rin, kamu yang bisa buat aku bahagia, hanya kamu.” Jawab leo mantap.
Aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan. Aku menulis di buku harian ku, aku tak mau ada air mata, aku hanya bisa menuliskan perasaanku di diary ku ini. Kini keadaanku sangat memburuk. Tubuhku tak mau lagi berkompromi. Organ-organ tubuhku menolak untuk diberi obat. Darah segar selalu mengalir dari hidungku. rambutku sekarang juga semakin sedikit. ‘Tuhan, aku rela jika kau ambil nyawaku sekarang’ gumamku dalam hati. Tiba-tiba semuanya gelap, aku melihat seberkas cahaya putih disana. Mataku mulai terpejam dan… selamat tinggal mama.
“Karin, kita menyayangimu, kenapa kamu cepet banget ninggalin kita” ucap nadya. Aku sangat mencintaimu rin. Dan sekarang kamu tidak perlu merasakan sakit itu lagi. “nak leo, sebelum Karin meninggal, Karin nitip surat ini ke tante.” Ucap tante Ambar, mama Karin. Aku membuka surat itu dengan hati-hati. Aku, Nadya, Ozy, Stuart dan Andra membaca surat itu.
Dear my best friend
Sebelumnya terimakasih sudah memberi warna di hidupku
suatu kebahagiaan yang luar biasa mengenal kalian
aku sangat menyayangi kalian…
saat raga ini tak mampu lagi menopang tubuhku…
kalian datang untuk menopangnya
ketika tubuhku melemah, kalian datang memberi tumpuan agar aku tetap mampu untuk berpijak
saat nafas ini tak lagi bersama ku, aku ingin kalian tetap tersenyum
karena satu hal yang harus kalian tahu, aku selalu di hati kalian?
Leo, terimakasih telah memberi warna yang berbeda di hidupku
telah mengijinkan ku merasakan apa itu cinta
aku menyayangimu, mencintaimu setulus hati
dan maaf aku belum bisa memberi yang terbaik untukmu
carilah wanita yang lebih sempurna di luar sana
aku selalu di hatimu…
o iya guys, aku boleh minta 1 permintaan gak
jaga mama baik-baik yah, aku percaya kepada kalian
hanya itu permintaanku
Terimakasih..
Aku tak mampu membendung air mataku. ‘aku janji rin, aku akan jaga tante ambar baik-baik, aku janji’ gumamku dalam hati. Aku mengantar Karin ke peristirahatan terakhirnya. Aku yakin, dia pasti tenang sekarang, dan aku masih bisa melihat pancaran senyumnya. ‘aku mencintaimu Karin..’ ucapku untuk yang terakhir kalinya.
Selesai
Cerpen Karangan: Silvia S.
Kamis, 22 Mei 2014
Even If It Hurts
Dear, Bian. Gue, gue suka sama lo. Entah udah berapa kali
gue tulis di lembar lembar diary kecil gue. Bian, di lembar ini, gue
emang udah yakin buat nulis kalo gue sadar gue emang suka sama lo.
“Al!”Aku menoleh. Gaby, dia datang dengan sepedanya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Bukit belakang sekolah, tempat favoritku sepulang sekolah untuk bersantai sejenak dari lelahnya aktifitas sekolah. Tepat disini, di bawah pohon bunga kertas putih rindang yang sudah tumbuh sangat tinggi dan pastinya, sudah bertahun-tahun menemaniku sejak aku SMP. Di pohon inilah aku sering melamun atau memikirkan sesuatu, berbicara sendiri, dan menulis diary –’ritual’ yang kulakukan sejak SD– sampai sekarang dan detik ini. Ketika baru seperempat halaman terisi, Gaby datang dan Aku cepat-cepat menutup buku diary berwarna krem tersebut.
“Hai, Gab.” sapaku riang.
“Hai juga, Alda.” balasnya. Ia menaruh sepedanya tepat di samping sepedaku. Lalu duduk di samping sebelahku, juga.
“Lo dari tadi nggak pulang dulu?” tanyanya sambil memerhatikan seragam putih abu-abu yang masih melekat di badanku. “Udah jam setengah dua loh,”
“Ah, nggak papa kok, Gab. Baru setengah jam lagian. Bentar lagi gue juga pulang kok.” jawabku tanpa melihatnya. Pandanganku lurus ke depan, memandang pemandangan kota dari atas bukit.
Gaby terdiam. Sepertinya ia memperhatikanku. Agak risih, aku menoleh ke arahnya. “Kenapa?”
“Nggak ada.” jawabnya singkat. Ia mengambil ponselnya di saku rok panjangnya.
Setelah itu mulai asik sendiri.
‘Mengganggu suasana ketenangan gue aja ni anak. Kesini cuma mau smsan? Kaya’ nggak ada tempat lain aja, padahal gue pengen sendiri disini. Pengen ngelanjutin diary, pengen merenung, pengen santai. Sendirian. Bukan ditemenin sama orang yang lagi smsan.’ batinku.
Mungkin terdengar aneh, atau, ‘Alda sok banget yaa. Sampe kesannya kayak ngusir’ MUNGKIN sebagian dari kalian berfikir begitu.
Gaby.. Gaby, yah, ia memang tergolong cewek yang mengasyikkan dan disukai banyak orang. Aku pun begitu. Tapi satu hal kecil membuatku berfikir lain. Semacam ada bisikan dan dorongan untuk mengalahkannya. Mengalahkannya dari.. Bian.
Bian. Mengingat namanya terkadang membuatku senang, terkadang sedih. Senang saat memikirkannya sendirian. Sedih, jika ada Gaby bersamaku.
Mungkin kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi. Aku menyukai Bian, Gaby juga. Bian.. Entahlah. Dia bukan tipe cowok blak-blakan yang menunjukkan perasaannya secara langsung. Hanya saja.. Gaby terlalu berniat membuat Bian jatuh hati padanya. Selalu sms, selalu mencuri perhatiannya, ikut campur dengan urusannya. Mau nggak mau yaaa ikatan mereka mungkin lebih akrab dibanding Bian denganku.
Aku menatap Gaby. Yah, masih sama. Smsan sama Bian pastinya.
“Texting with Bian again, Gab?”
Gaby menoleh. “Yap. Tapi nggak dibales dari tadi. Mungkin dia lagi les.”
‘Mampus, lo! Hahah’ batinku tertawa dalam hati. Les apanya? Yang Aku tahu, Bian ikut les sehabis maghrib nanti. Dan dia ada ekstrakulikuler talendtrainee di sekolah nanti jam 3. Ekstra yang sama sepertiku.
Sebenarnya, Aku tega nggak tega berfikiran jahat ke Gaby. To be honest anaknya asik banget, walaupun dia bukan bestie ku. feminim tapi nggak mencolok. Cantik, lagi. Kemana-mana pakai jilbab. Nggak kayak Aku yang masih ragu. Biasanya orang suka jadiin jilbab sebagai kambing hitam. Misalnya, “Anak berjilbab kok banyak tingkah gitu. Mending nggak usah pakai jilbab, deh.” Sering nggak sih denger orang ngomong gitu? Padahal nggak ada hubungannya loh. Lagian kan banyak tingkah itu masih dalam batas wajar.
Lah, kenapa jadi nyambung ke jilbab?
Back to the topic.
“Lo suka ya sama Bian?” tanyaku.
“Ah,” Ia terdiam sebentar. “Cuma sebagai sahabat.”
“Cuma sebagai sahabat. Tapi kan lama lama bakal lebih, Gab?” batinku lagi.
“Enak ya, dianggap sahabat sama Bian. Bian nilai lo cewek baik-baik. Beda jauh sama penilaiannya ke gue.” Ucapku.
“Lo tau sendiri kan, kaya apa gue sama Bian waktu di kelas?” lanjutku sambil tertawa kecil.
“Lo usil. Sama siapa aja sih. Sama Bian apalagi. Kadang, gue iri sama lo.”
“Ko’ bisa? Kata Bian, gue orangnya usil, nakal, sembarangan, annoying banget. Dia selalu nulis nama gue pake embel embel jelek. Alay lagi. Contohnya 4LD4 J3L€XS~” Aku mulai bercerita sembarangan. “Mana ada lo iri sama gue. Yang ada mah gue iri sama lo, Gab.”
“Lo enak ya, bisa deket sama semua cowok dengan sifat humoris lo. Lo gak gampang sakit hati. Cuman sih, lo agak lebay. Hahaha” kata Gaby.
“…”
“Gue.. Gue nggak tau apa yang gue rasain ke Bian,” ungkap Gaby.
Ah sudahlah. Menunggu Gaby pergi dari sini hanya akan membuang waktuku, dan juga, memberi luka tambahan pada hatiku ini. Buat apa sih, dia kesini? Toh biasanya dia kan nggak suka kesini. Lebih baik aku pulang dan ber istirahat karena satu jam lagi, aku ada jadwal ekstrakulikuler talendtrainee.
“Gab, gue pulang dulu ya. Capek nih,” kataku seraya berdiri.
“Iya, Al. Hati-hati.” kata Gaby lembut.
Aku mengangguk, lalu berjalan menuju sepedaku sambil menggendong tas sekolahku yang, eugh. Berat.
“Al !”
Aku menoleh. “Apa, Gab?”
“Maaf udah ganggu kenyaman lo. Makasih udah nemenin dan biarin gue disini. Makasih banyak, Al”
Aku tersenyum. “Sama-samaaa. Dadah, Gab.”
—
Aku memarkirkan sepeda ku di tempat parkir sekolah. Jam masih menunjukkan pukul 3 kurang lima belas menit. Oke, Aku pasti nggak bakal terlambat.
Aku lalu membenarkan tali sepatu biruku yang kendor, lalu berjalan melewati halaman sekolah, berjalan menuju ruang tempat latihan ekstrakulikuler talendtrainee. Sosok cowok tinggi dengan tas hitam khasnya berjalan pelan di depanku, kira kira berjarak hanya 5 meter dariku. Rambutnya, tingginya, cara berjalannya, dia.. Bian !
Aku berlari menyusulnya dan berhenti tepat di belakangnya, pas di belakangnya.
“Hey yaaa” seruku riang.
Bian menoleh. “Hey, what’s up, girl?”
Seketika saja tawaku langsung meledak mendengar ucapannya tersebut. Gila saja, Hey-what’s-up-girl-nya begitu terdengar SANGAT-SOK KEREN, SOK KEREN, dan SOK KEREN!
“Hey.” ulangku lagi. “Maaf, oke? Jangan marah, cepet tua ntar.” lanjutku sambil cekikikan melihat tampangnya. Ngambek, melirik, merengut.
Bian, ah menyenangkan sekali bisa kebetulan datang bersamanya hari ini. Well, beberapa orang bilang nggak ada kebetulan di dunia ini. Tapi apapun itu, aku nyaman berada di dekatnya saat ini. Kami mengobrol tak terhenti, saling meledek dan melempar humor. Jauh dari topik tentang Gaby yang, em, aku sama sekali nggak berharap Bian bahas dia.
Kita sampai. Ruang Latihan TalendTrainee. Pintunya masih tertutup rapat. Aku membukanya lalu masuk ke dalam, bersama Bian. Lalu menaruh tas serutku di lantai dan memulai pemanasan.
Yeah, mungkin perlu kujelaskan.
TalendTrainee, Eksrakulikuler yang MUNGKIN hanya SMA ku lah yang punya. Jadi disini semacam teater, atau munkin trainee seperti artis. Kita menyanyi dan menari, lalu kami membuat show. Biasanya saat ada acara tertentu, misalnya, akhir semester, Dies natalis sekolah, dll.
Aku berdiri menghadap kaca besar yang menutupi sebagian ruangan. Sosokku terpampang jelas disana, gadis berambut pendek pas di atas bahu dengan kaos oblong abu abu dan celana hitam selutut biasa. Sedikit nggak percaya kalau itu rupaku. Dilihat lihat, mukaku bagus juga. Mirip EunJung T-Ara. Hahah lol. Aku tertawa-tawa sendiri dan itu membuat Bian menatapku aneh. Lalu sejenak tawaku terhenti dan bilang,
“Nggak ngetawain kamu. Aku ngetawain aku. Diriku sendiri. Heheheh,” sambil membuat peace sign dengan tangan. Masih dengan posisi menatap kaca. Menatap Bian dari kaca. Aku tahu, dia nggak suka diketawain. Dia kan, TIPE-COWOK-YANG-MENILAI-DIRINYA-SEMPURNA
Bian menatapku, lalu, “Latihan sekarang yuk,”
Aku menoleh ke belakang. “Berdua?”
Bian mengangguk. “Dream High.”
Kami tersenyum bersama. Aku berjalan mendekatinya. Ia memasukkan kaset lagu yang biasanya dipakai untuk latihan.
Kami menari bersama, terkadang ikut bernyanyi pada bagian tertentu. Terkadang Bian membantuku ketika ada salah gerakan.
DreamHigh. Yes, My Dreams are so high. I’m dreaming you’ll be mine, Bian. Dreaming you’ll stay here with me forever. Dreaming you’ll love me like the way I love you. Bian, Do your dreams as same as mine?
—
Jam menunjukkan pukul setengah lima. Tak terasa, kami semua-anggota TalendTrainee telah berlatih selama satu jam setengah. Kini waktunya istirahat. Aku duduk di pojok ruangan sambil memandang anak anak lain yang masih berlatih gerakan yang agak susah. Salah satunya.. Bian. Dia masih melakukan tarian ulang lagu dari awal sambil bersenandung kecil.
“…”
Gerakannya terhenti. Tiba-tiba ia terdiam menghadap kaca sambil menatap pantulan dirinya sendiri di kaca, persis apa yang kukakukan tadi. Lalu ia tertawa kecil tanpa suara, persis dengan apa yang kulakukan tadi. Tanpa kusadari kedua sudut bibirku tertarik otomatis, aku tersenyum, entah yang ke berapa kalinya karena melihat tingkahnya.
Aku mengalihkan pandanganku ke tas serut oranye ku. Membukanya dan mendapati sesuatu yang memang aku pikirkan sejak 3 detik yang lalu. Yap. Buku diary!
Mmm.. Sebenarnya Aku kurang suka menyebutnya buku diary. Aku lebih suka.. MemoDay. Karena ini adalah buku memoku yang kuisi dengan apa yang telah kulakukan hari ini.
20 Oktober 2013. Dear, Bian. Hey, Bian, can you feel it? Feel my heart attack everyday, everytime. The way you look at me, the way you smile at me, the way you laugh with me, the way you speak, the way you, the way youuuu. Heyaa, I’m crazy, I’m crazy bcz I love you. I love you, to the moon and back.
Ha! Tebak siapa yang senengggbgt hari ini? Guess who? Ya Gue, dong! Tadi ngomong banyak sama Bian.
Cuman itu sih, dan Gue nggak peduli walaupun dia nyebut Gue nyebelin ataupun ‘cewek jadi jadian’. Mmm.. dia sering nyebut Gue gitu.
“Al,”
Aku segera menutup bukuku. “Ya? Apa Bi?”
“Minta airnya dong. Gue haus.” katanya sambil duduk di sebelahku. Lalu ia merebut botol minum dari tanganku sebelum aku menjawab ya atau tidak dari permintaannya tadi.
Glek, Glek. “Heh, nggak sopan lo,” Glek, Glek.
“Ahh.”
“Kelamaan lo jawabnya,”
“Ya nggak bisa gitu dong! Belum tentu gue bilang YA kan?”
“Oo. Jadi ceritanya lo pelit sama gue nih?”
“Oo ya jelas dong. Gue kan pelit.” balasku bangga. Hahah
“Awas ya, pokoknya lo gak boleh pinjem novel dan komik gue lagi. Sekaligus..” ancam Bian. “Sekaligus, botol ini gue ambil! Wleek!” lanjutnya sambil berlari membawa botolku.
“BIAAAAANN KEMBALIIN BOTOL GUE! AWAS LO! BIAAANNN”
—
Pukul lima sore. Itu artinya sudah waktunya mengakhiri latihan dan bergegas pulang. Aku mengikat tali sepatuku yang kendor gara gara.. Pfft. Siapa lagi kalau bukan.. Bian.
Sangking lamanya berlari membuat tali sepatuku kendor dan aku paling malas membetulkannya. Apa boleh buat.
“Heh. Minggir, jangan jongkok di tengah jalan. Mau BAB ya? Kalo udah penuh jan lupa siram,”
Sudah bisa ditebak. Pasti Bian. Aku mendongak. “Heh, Bian. Sewot amat dah?” balasku. “Biarin yee. Gue emang sewot bin ribet bin ruwet bin bawel.” kata Bian, masih tetap berdiri di sampingku.
“Rempong lo. Kaya’ emak emak,” ejekku sambil berdiri dan berjalan melewati Bian.
“Alda! Tunggu dong!”
Langkahku terhenti, kemudian aku menoleh, “Lo dari tadi nungguin gue? Ngefans lo?”
“Dih, enggak banget deh yaa.”
“Ya udah.”
“Wey! Tungguin dong. Gak setia kawan banget lo ah.” teriak Bian sambil menyusulku.
“Emang gue pikirin? Wlekk”
“Nyebelin. Ga kaya’ Gaby lo. Baikan Gaby. Ih.”
Deg,
‘Gaby? Lagi dan lagi, Gaby? Oke. Stop bandingin gue sama dia. Jelas lah Gaby baik sama lo, dia kan terang terangan nunjukin perasaannya ke lo. Gue jaga perasaan gue demi lo. Gue gak suka mentingin diri sendiri. Gue ya gue, gue Alda. Gue gak akan pernah jadi kayak Gaby. Ngerti ga sih, Bian?’ Batinku mengomel-ngomel panjang lebar.
“Lah, kenapa nyambung ke Gaby coba? Emang kita ada bahas dia?” tanyaku agak risih.
“Nggak sih.” jawab Bian cepat.
Lalu kami hanya diam sambil berjalan pelan ke parkiran.
“…”
“Naik sepeda, Al?” tanya Bian ketika Aku menghampiri sepedaku lantas membuka kuncinya.
“Nggak. Gue merangkak sampe rumah.” batinku. Maunya ‘sih ngomong gitu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang berbisik. “Hey, Alda. Lo suka sama Bian kan? Coba bersikap nggak jutek dan bercanda terus. Coba serius dikit, buktiin kalo lo gak cuma bisa bercanda. Honestly please, Alda!”
Aku mengangguk. “Eum. Emang kenapa?”
“Nggak ada. Sama dong. Eh, gue duluan ya. Buru-buru.”
Lalu bayangan Bian semakin jauh dari pandanganku. Aku menaiki sepedaku lalu mengayuhnya perlahan menuju bukit belakang sekolah.
—
“I’m sleeping trough the day, I’m trying not to fade. But every single night I’m just been lying awake, cuz I, I can’t get you off my mind.”
Bukit belakang sekolah. Aku mendengarnya. Lagu On My Mind milik Cody Simpson tengah dinyanyikan oleh cowok yang duduk membelakangiku tepat di bawah pohon bunga bougenvile favoritku. Aku mengamatinya di balik pohon. Siapa sih dia?
“The moment that we met, I didn’t know yet, that I was looking at a face I’ll never forget. Cause I, I can’t get you off my mind,” lanjutku sambil mendekatinya.
Ia menoleh. Wow, I’m suprised because that. Guess who? Yep, Bian!
“Lo?” ucap kami bersamaan.
Awkward moment. Kami salah tingkah satu sama lain. Oke, terutama Aku.
“Tumben apanya?” Bian berbalik tanya.
“Tumben.. Lo kesini?”
“Ye… Udah lama kali. Lo juga. Tumben?”
“Kampret lo. Gue tiap pulang sekolah mah kesini. Tepat disini.” jawabku sambil menunjuk tempatku duduk. “dan anehnya, kenapa gue nggak pernah liat lo?”
“Nggak tau deh. Tapi biasanya gue emang gak disini. Di pohon lain, agak jauh dari sini, jadi wajar kalo kita nggak ketemu.”
Secara otomatis mulutku membentuk huruf o.
“Nyanyi yuk, Bi?” ajakku. “Mau?”
Bian menoleh, ia menatapku sebentar. “Oke.”
“Right from the start, you were a thief you stole my heart, and I you willing victim,” aku mulai bernyanyi. “I let you see the parts of me, that weren’t all that pretty, and with every touch you fixed them.”
“Now you’ve been talking in your sleep, oh woah, things you never say to me, oh oh. Tell me that you’ve had enough, of our love, our love.”
lalu kami bernyanyi bersama hingga akhir lagu.
Yeah, just gimme a reason, Bian. Why you’re so perf in my eyes.
Aku menengok jam tanganku, Jam lima lewat limabelas menit. Kemudian Aku teringat sesuatu. Aku menoleh ke arah Bian, menatapnya lekat lekat. Sudah lama aku menanti waktu ini, aku.. Ingin kepastian.
“Bi, main yuk?” tanyaku sambil tersenyum riang. “ToD mau nggak?”
“Boleh. Gue T,”
“Lo suka sama Gaby?”
Deg. 1, 2, 3. Jantungku berdegup kencang. Aku nggak pengen terlalu mengharap lagi, Bi.
“Ya. Gue suka sama Gaby,”
Ziinngggg
waktu serasa berhenti berputar. Tubuhku dingin, kaku, kaku… sekali.
“Al,”
Aku langsung tersadar. “Iya? Gue T.”
“Lo suka sama siapa?”
Aku terdiam. ‘Bodo. ya sama lo lah, Bi.’
Aku menoleh, mata kami bertemu beberap saat yang lama. Plis, Bi, lidah gue kelu mau jawab. Kalo gue jawab Lo, gue takut itu bakal ngerusak persahabatan kita.
“Rafly. Ya kan?”
Rafly? Dia.. Mantanku. Kita putus karena alasan yang jelas. Kita satu sama lain udah ngerasa capek dan milih jalan sendiri dulu. Dia juga sahabatku. Dan kini, kami sekelas.
“Nggak, Bi. Gue lagi gak punya crush.” jawabku berbohong.
“Serius?”
“yap,” jawabku pelan.
“…”
Baik aku maupun Bian tak ada yang membuka suara. Aku hanya terdiam sambil duduk memeluk lututku dengan kepala tenggelam di kedua sisi lututku.
Aku melirik Bian, dia hanya duduk dengan kaki kiri ditekuk dan kaki kanan diselonjorkan. Pandangannya menerawang ke depan, kosong. Sebenernya, apa sih, yang lo pikirin, Bi?
Aku memejamkan mataku, mencoba mencerna kembali kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu.
“YA, GUE SUKA SAMA GABY.”
Kata-kata itu terus terngiang ngiang di telingaku. Satu fakta yang membuat segala harapanku pupus seketika, satu ucapan yang seolah membuat hatiku menyuruh menjauhinya, karena satu fakta yang meluruskan semuanya, bahwa Bian menyukai Gaby, bukan aku.
Aku membuka mataku kembali. Jemari tanganku dengan refleks menyentuh pipiku sendiri. Basah, aku.. Menangis?
Nggak, Aku Alda. Dan aku nggak akan nangis, ini bukan tangisan, ini cuman air yang keluar sedikit dari mata. Aku..
“Oke, Alda. Sadarkan diri lo. Udah lama kan, lo tau kalo Gaby emang suka sama Bian dan mereka saling ngasi sinyal? Bukannya lo udah biasa liat kayak gitu di kelas?” ucapan itu terpikir di benakku dengan sendirinya, seolah hatiku lah yang mengucapkannya. Aku hanya diam sambil memeluk lututku lebih rapat.
Dan hati ini berbisik lagi, “Lo bercanda tiap hari sama Bian bukan berarti Bian suka, Al. Dan lo sama sekali bukan tipe crush Bian. Tapi lo itu temen terbaik Bian, lo itu sahabatnya. Dan sahabat itu statusnya lebih berharga dibanding pacar. Karena lo selalu ada disaat dia senang maupun sedih, dan kalo dia ada masalah sama pacarnya, dia curhat ke siapa? Jawabannya lo, Al!
Cowok nggak setiap saat terlalu tertutup, Oke, Bian masih belum punya masalah berat. Tapi suatu saat dia pasti butuh lo, sahabat terbaiknya. Yang selalu bikin dia ketawa, yang selalu bikin moodnya naik, yang nggak pernah bikin dia bosen. Dan semua fakta itu ada di diri lo, Alda! Bukan Gaby!”
Aku merenunginya. Kata-kata itu.. Keluar dari hatiku sendiri, hanya tersalur dengan sendirinya melalui bisikan ke telingaku.
“Inget nggak pas di kelas, dia selalu bosen karena nggak disapa Gaby dan lo selalu ngalihin perhatian Bian dan bikin moodnya naik lagi? Lo inget gak moment lo yang penuh tawa sama dia? Al, sadar. Lo lebih baik gak usah maksain perasaan lo, biarkan dia memilih jalannya sendiri. Dan biarin perasaan lo mengalir dan lama lama menghilang. Al, lo itu Alda yang kuat, yang selalu optimis sama diri lo. Jadi yakinin diri lo, Al.”
Aku mengangkat kepalaku, menoleh ke arah Bian untuk beberapa saat. Lalu ia menoleh kepadaku, dan mata kami saling bertemu.
Untuk kesekian kalinya, kami saling melempar senyum satu sama lain.
Senja mulai datang, warna oranye bercampur dengan ungu dan biru mewarnai langit berawan di tasku. Kami menikmatinya penuh dengan tawa dan obrolan konyol seperti biasanya. Dan ketika matahari tenggelam, baik Aku dan Bian saling tersenyum takjub memandang keindahannya.
“…”
Bian menoleh padaku, aku membalas tatapannya seraya tersenyum senang.
Dan mulai saat itu, detik itu, Bian telah memberiku kenyataan yang membuatku sadar tentang diriku sendiri, walaupun harus menerima kenyataan pahit, namun itu menjelaskan bahwa aku, tak bisa memaksakan perasaan ini kepadamu. Biarkan perasaan ini mengalir sendirinya, Biarkanlah hanya Aku dan Tuhan yang mengetahuinya. And I’m still love you even if it hurts~
**END**
karangan : Sae Rizkina Ramada
Langganan:
Komentar (Atom)