Dear, Bian. Gue, gue suka sama lo. Entah udah berapa kali
gue tulis di lembar lembar diary kecil gue. Bian, di lembar ini, gue
emang udah yakin buat nulis kalo gue sadar gue emang suka sama lo.
“Al!”Aku menoleh. Gaby, dia datang dengan sepedanya sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Bukit belakang sekolah, tempat favoritku sepulang sekolah untuk bersantai sejenak dari lelahnya aktifitas sekolah. Tepat disini, di bawah pohon bunga kertas putih rindang yang sudah tumbuh sangat tinggi dan pastinya, sudah bertahun-tahun menemaniku sejak aku SMP. Di pohon inilah aku sering melamun atau memikirkan sesuatu, berbicara sendiri, dan menulis diary –’ritual’ yang kulakukan sejak SD– sampai sekarang dan detik ini. Ketika baru seperempat halaman terisi, Gaby datang dan Aku cepat-cepat menutup buku diary berwarna krem tersebut.
“Hai, Gab.” sapaku riang.
“Hai juga, Alda.” balasnya. Ia menaruh sepedanya tepat di samping sepedaku. Lalu duduk di samping sebelahku, juga.
“Lo dari tadi nggak pulang dulu?” tanyanya sambil memerhatikan seragam putih abu-abu yang masih melekat di badanku. “Udah jam setengah dua loh,”
“Ah, nggak papa kok, Gab. Baru setengah jam lagian. Bentar lagi gue juga pulang kok.” jawabku tanpa melihatnya. Pandanganku lurus ke depan, memandang pemandangan kota dari atas bukit.
Gaby terdiam. Sepertinya ia memperhatikanku. Agak risih, aku menoleh ke arahnya. “Kenapa?”
“Nggak ada.” jawabnya singkat. Ia mengambil ponselnya di saku rok panjangnya.
Setelah itu mulai asik sendiri.
‘Mengganggu suasana ketenangan gue aja ni anak. Kesini cuma mau smsan? Kaya’ nggak ada tempat lain aja, padahal gue pengen sendiri disini. Pengen ngelanjutin diary, pengen merenung, pengen santai. Sendirian. Bukan ditemenin sama orang yang lagi smsan.’ batinku.
Mungkin terdengar aneh, atau, ‘Alda sok banget yaa. Sampe kesannya kayak ngusir’ MUNGKIN sebagian dari kalian berfikir begitu.
Gaby.. Gaby, yah, ia memang tergolong cewek yang mengasyikkan dan disukai banyak orang. Aku pun begitu. Tapi satu hal kecil membuatku berfikir lain. Semacam ada bisikan dan dorongan untuk mengalahkannya. Mengalahkannya dari.. Bian.
Bian. Mengingat namanya terkadang membuatku senang, terkadang sedih. Senang saat memikirkannya sendirian. Sedih, jika ada Gaby bersamaku.
Mungkin kalian sudah bisa menebak apa yang terjadi. Aku menyukai Bian, Gaby juga. Bian.. Entahlah. Dia bukan tipe cowok blak-blakan yang menunjukkan perasaannya secara langsung. Hanya saja.. Gaby terlalu berniat membuat Bian jatuh hati padanya. Selalu sms, selalu mencuri perhatiannya, ikut campur dengan urusannya. Mau nggak mau yaaa ikatan mereka mungkin lebih akrab dibanding Bian denganku.
Aku menatap Gaby. Yah, masih sama. Smsan sama Bian pastinya.
“Texting with Bian again, Gab?”
Gaby menoleh. “Yap. Tapi nggak dibales dari tadi. Mungkin dia lagi les.”
‘Mampus, lo! Hahah’ batinku tertawa dalam hati. Les apanya? Yang Aku tahu, Bian ikut les sehabis maghrib nanti. Dan dia ada ekstrakulikuler talendtrainee di sekolah nanti jam 3. Ekstra yang sama sepertiku.
Sebenarnya, Aku tega nggak tega berfikiran jahat ke Gaby. To be honest anaknya asik banget, walaupun dia bukan bestie ku. feminim tapi nggak mencolok. Cantik, lagi. Kemana-mana pakai jilbab. Nggak kayak Aku yang masih ragu. Biasanya orang suka jadiin jilbab sebagai kambing hitam. Misalnya, “Anak berjilbab kok banyak tingkah gitu. Mending nggak usah pakai jilbab, deh.” Sering nggak sih denger orang ngomong gitu? Padahal nggak ada hubungannya loh. Lagian kan banyak tingkah itu masih dalam batas wajar.
Lah, kenapa jadi nyambung ke jilbab?
Back to the topic.
“Lo suka ya sama Bian?” tanyaku.
“Ah,” Ia terdiam sebentar. “Cuma sebagai sahabat.”
“Cuma sebagai sahabat. Tapi kan lama lama bakal lebih, Gab?” batinku lagi.
“Enak ya, dianggap sahabat sama Bian. Bian nilai lo cewek baik-baik. Beda jauh sama penilaiannya ke gue.” Ucapku.
“Lo tau sendiri kan, kaya apa gue sama Bian waktu di kelas?” lanjutku sambil tertawa kecil.
“Lo usil. Sama siapa aja sih. Sama Bian apalagi. Kadang, gue iri sama lo.”
“Ko’ bisa? Kata Bian, gue orangnya usil, nakal, sembarangan, annoying banget. Dia selalu nulis nama gue pake embel embel jelek. Alay lagi. Contohnya 4LD4 J3L€XS~” Aku mulai bercerita sembarangan. “Mana ada lo iri sama gue. Yang ada mah gue iri sama lo, Gab.”
“Lo enak ya, bisa deket sama semua cowok dengan sifat humoris lo. Lo gak gampang sakit hati. Cuman sih, lo agak lebay. Hahaha” kata Gaby.
“…”
“Gue.. Gue nggak tau apa yang gue rasain ke Bian,” ungkap Gaby.
Ah sudahlah. Menunggu Gaby pergi dari sini hanya akan membuang waktuku, dan juga, memberi luka tambahan pada hatiku ini. Buat apa sih, dia kesini? Toh biasanya dia kan nggak suka kesini. Lebih baik aku pulang dan ber istirahat karena satu jam lagi, aku ada jadwal ekstrakulikuler talendtrainee.
“Gab, gue pulang dulu ya. Capek nih,” kataku seraya berdiri.
“Iya, Al. Hati-hati.” kata Gaby lembut.
Aku mengangguk, lalu berjalan menuju sepedaku sambil menggendong tas sekolahku yang, eugh. Berat.
“Al !”
Aku menoleh. “Apa, Gab?”
“Maaf udah ganggu kenyaman lo. Makasih udah nemenin dan biarin gue disini. Makasih banyak, Al”
Aku tersenyum. “Sama-samaaa. Dadah, Gab.”
—
Aku memarkirkan sepeda ku di tempat parkir sekolah. Jam masih menunjukkan pukul 3 kurang lima belas menit. Oke, Aku pasti nggak bakal terlambat.
Aku lalu membenarkan tali sepatu biruku yang kendor, lalu berjalan melewati halaman sekolah, berjalan menuju ruang tempat latihan ekstrakulikuler talendtrainee. Sosok cowok tinggi dengan tas hitam khasnya berjalan pelan di depanku, kira kira berjarak hanya 5 meter dariku. Rambutnya, tingginya, cara berjalannya, dia.. Bian !
Aku berlari menyusulnya dan berhenti tepat di belakangnya, pas di belakangnya.
“Hey yaaa” seruku riang.
Bian menoleh. “Hey, what’s up, girl?”
Seketika saja tawaku langsung meledak mendengar ucapannya tersebut. Gila saja, Hey-what’s-up-girl-nya begitu terdengar SANGAT-SOK KEREN, SOK KEREN, dan SOK KEREN!
“Hey.” ulangku lagi. “Maaf, oke? Jangan marah, cepet tua ntar.” lanjutku sambil cekikikan melihat tampangnya. Ngambek, melirik, merengut.
Bian, ah menyenangkan sekali bisa kebetulan datang bersamanya hari ini. Well, beberapa orang bilang nggak ada kebetulan di dunia ini. Tapi apapun itu, aku nyaman berada di dekatnya saat ini. Kami mengobrol tak terhenti, saling meledek dan melempar humor. Jauh dari topik tentang Gaby yang, em, aku sama sekali nggak berharap Bian bahas dia.
Kita sampai. Ruang Latihan TalendTrainee. Pintunya masih tertutup rapat. Aku membukanya lalu masuk ke dalam, bersama Bian. Lalu menaruh tas serutku di lantai dan memulai pemanasan.
Yeah, mungkin perlu kujelaskan.
TalendTrainee, Eksrakulikuler yang MUNGKIN hanya SMA ku lah yang punya. Jadi disini semacam teater, atau munkin trainee seperti artis. Kita menyanyi dan menari, lalu kami membuat show. Biasanya saat ada acara tertentu, misalnya, akhir semester, Dies natalis sekolah, dll.
Aku berdiri menghadap kaca besar yang menutupi sebagian ruangan. Sosokku terpampang jelas disana, gadis berambut pendek pas di atas bahu dengan kaos oblong abu abu dan celana hitam selutut biasa. Sedikit nggak percaya kalau itu rupaku. Dilihat lihat, mukaku bagus juga. Mirip EunJung T-Ara. Hahah lol. Aku tertawa-tawa sendiri dan itu membuat Bian menatapku aneh. Lalu sejenak tawaku terhenti dan bilang,
“Nggak ngetawain kamu. Aku ngetawain aku. Diriku sendiri. Heheheh,” sambil membuat peace sign dengan tangan. Masih dengan posisi menatap kaca. Menatap Bian dari kaca. Aku tahu, dia nggak suka diketawain. Dia kan, TIPE-COWOK-YANG-MENILAI-DIRINYA-SEMPURNA
Bian menatapku, lalu, “Latihan sekarang yuk,”
Aku menoleh ke belakang. “Berdua?”
Bian mengangguk. “Dream High.”
Kami tersenyum bersama. Aku berjalan mendekatinya. Ia memasukkan kaset lagu yang biasanya dipakai untuk latihan.
Kami menari bersama, terkadang ikut bernyanyi pada bagian tertentu. Terkadang Bian membantuku ketika ada salah gerakan.
DreamHigh. Yes, My Dreams are so high. I’m dreaming you’ll be mine, Bian. Dreaming you’ll stay here with me forever. Dreaming you’ll love me like the way I love you. Bian, Do your dreams as same as mine?
—
Jam menunjukkan pukul setengah lima. Tak terasa, kami semua-anggota TalendTrainee telah berlatih selama satu jam setengah. Kini waktunya istirahat. Aku duduk di pojok ruangan sambil memandang anak anak lain yang masih berlatih gerakan yang agak susah. Salah satunya.. Bian. Dia masih melakukan tarian ulang lagu dari awal sambil bersenandung kecil.
“…”
Gerakannya terhenti. Tiba-tiba ia terdiam menghadap kaca sambil menatap pantulan dirinya sendiri di kaca, persis apa yang kukakukan tadi. Lalu ia tertawa kecil tanpa suara, persis dengan apa yang kulakukan tadi. Tanpa kusadari kedua sudut bibirku tertarik otomatis, aku tersenyum, entah yang ke berapa kalinya karena melihat tingkahnya.
Aku mengalihkan pandanganku ke tas serut oranye ku. Membukanya dan mendapati sesuatu yang memang aku pikirkan sejak 3 detik yang lalu. Yap. Buku diary!
Mmm.. Sebenarnya Aku kurang suka menyebutnya buku diary. Aku lebih suka.. MemoDay. Karena ini adalah buku memoku yang kuisi dengan apa yang telah kulakukan hari ini.
20 Oktober 2013. Dear, Bian. Hey, Bian, can you feel it? Feel my heart attack everyday, everytime. The way you look at me, the way you smile at me, the way you laugh with me, the way you speak, the way you, the way youuuu. Heyaa, I’m crazy, I’m crazy bcz I love you. I love you, to the moon and back.
Ha! Tebak siapa yang senengggbgt hari ini? Guess who? Ya Gue, dong! Tadi ngomong banyak sama Bian.
Cuman itu sih, dan Gue nggak peduli walaupun dia nyebut Gue nyebelin ataupun ‘cewek jadi jadian’. Mmm.. dia sering nyebut Gue gitu.
“Al,”
Aku segera menutup bukuku. “Ya? Apa Bi?”
“Minta airnya dong. Gue haus.” katanya sambil duduk di sebelahku. Lalu ia merebut botol minum dari tanganku sebelum aku menjawab ya atau tidak dari permintaannya tadi.
Glek, Glek. “Heh, nggak sopan lo,” Glek, Glek.
“Ahh.”
“Kelamaan lo jawabnya,”
“Ya nggak bisa gitu dong! Belum tentu gue bilang YA kan?”
“Oo. Jadi ceritanya lo pelit sama gue nih?”
“Oo ya jelas dong. Gue kan pelit.” balasku bangga. Hahah
“Awas ya, pokoknya lo gak boleh pinjem novel dan komik gue lagi. Sekaligus..” ancam Bian. “Sekaligus, botol ini gue ambil! Wleek!” lanjutnya sambil berlari membawa botolku.
“BIAAAAANN KEMBALIIN BOTOL GUE! AWAS LO! BIAAANNN”
—
Pukul lima sore. Itu artinya sudah waktunya mengakhiri latihan dan bergegas pulang. Aku mengikat tali sepatuku yang kendor gara gara.. Pfft. Siapa lagi kalau bukan.. Bian.
Sangking lamanya berlari membuat tali sepatuku kendor dan aku paling malas membetulkannya. Apa boleh buat.
“Heh. Minggir, jangan jongkok di tengah jalan. Mau BAB ya? Kalo udah penuh jan lupa siram,”
Sudah bisa ditebak. Pasti Bian. Aku mendongak. “Heh, Bian. Sewot amat dah?” balasku. “Biarin yee. Gue emang sewot bin ribet bin ruwet bin bawel.” kata Bian, masih tetap berdiri di sampingku.
“Rempong lo. Kaya’ emak emak,” ejekku sambil berdiri dan berjalan melewati Bian.
“Alda! Tunggu dong!”
Langkahku terhenti, kemudian aku menoleh, “Lo dari tadi nungguin gue? Ngefans lo?”
“Dih, enggak banget deh yaa.”
“Ya udah.”
“Wey! Tungguin dong. Gak setia kawan banget lo ah.” teriak Bian sambil menyusulku.
“Emang gue pikirin? Wlekk”
“Nyebelin. Ga kaya’ Gaby lo. Baikan Gaby. Ih.”
Deg,
‘Gaby? Lagi dan lagi, Gaby? Oke. Stop bandingin gue sama dia. Jelas lah Gaby baik sama lo, dia kan terang terangan nunjukin perasaannya ke lo. Gue jaga perasaan gue demi lo. Gue gak suka mentingin diri sendiri. Gue ya gue, gue Alda. Gue gak akan pernah jadi kayak Gaby. Ngerti ga sih, Bian?’ Batinku mengomel-ngomel panjang lebar.
“Lah, kenapa nyambung ke Gaby coba? Emang kita ada bahas dia?” tanyaku agak risih.
“Nggak sih.” jawab Bian cepat.
Lalu kami hanya diam sambil berjalan pelan ke parkiran.
“…”
“Naik sepeda, Al?” tanya Bian ketika Aku menghampiri sepedaku lantas membuka kuncinya.
“Nggak. Gue merangkak sampe rumah.” batinku. Maunya ‘sih ngomong gitu, tapi entah kenapa ada sesuatu yang berbisik. “Hey, Alda. Lo suka sama Bian kan? Coba bersikap nggak jutek dan bercanda terus. Coba serius dikit, buktiin kalo lo gak cuma bisa bercanda. Honestly please, Alda!”
Aku mengangguk. “Eum. Emang kenapa?”
“Nggak ada. Sama dong. Eh, gue duluan ya. Buru-buru.”
Lalu bayangan Bian semakin jauh dari pandanganku. Aku menaiki sepedaku lalu mengayuhnya perlahan menuju bukit belakang sekolah.
—
“I’m sleeping trough the day, I’m trying not to fade. But every single night I’m just been lying awake, cuz I, I can’t get you off my mind.”
Bukit belakang sekolah. Aku mendengarnya. Lagu On My Mind milik Cody Simpson tengah dinyanyikan oleh cowok yang duduk membelakangiku tepat di bawah pohon bunga bougenvile favoritku. Aku mengamatinya di balik pohon. Siapa sih dia?
“The moment that we met, I didn’t know yet, that I was looking at a face I’ll never forget. Cause I, I can’t get you off my mind,” lanjutku sambil mendekatinya.
Ia menoleh. Wow, I’m suprised because that. Guess who? Yep, Bian!
“Lo?” ucap kami bersamaan.
Awkward moment. Kami salah tingkah satu sama lain. Oke, terutama Aku.
“Tumben apanya?” Bian berbalik tanya.
“Tumben.. Lo kesini?”
“Ye… Udah lama kali. Lo juga. Tumben?”
“Kampret lo. Gue tiap pulang sekolah mah kesini. Tepat disini.” jawabku sambil menunjuk tempatku duduk. “dan anehnya, kenapa gue nggak pernah liat lo?”
“Nggak tau deh. Tapi biasanya gue emang gak disini. Di pohon lain, agak jauh dari sini, jadi wajar kalo kita nggak ketemu.”
Secara otomatis mulutku membentuk huruf o.
“Nyanyi yuk, Bi?” ajakku. “Mau?”
Bian menoleh, ia menatapku sebentar. “Oke.”
“Right from the start, you were a thief you stole my heart, and I you willing victim,” aku mulai bernyanyi. “I let you see the parts of me, that weren’t all that pretty, and with every touch you fixed them.”
“Now you’ve been talking in your sleep, oh woah, things you never say to me, oh oh. Tell me that you’ve had enough, of our love, our love.”
lalu kami bernyanyi bersama hingga akhir lagu.
Yeah, just gimme a reason, Bian. Why you’re so perf in my eyes.
Aku menengok jam tanganku, Jam lima lewat limabelas menit. Kemudian Aku teringat sesuatu. Aku menoleh ke arah Bian, menatapnya lekat lekat. Sudah lama aku menanti waktu ini, aku.. Ingin kepastian.
“Bi, main yuk?” tanyaku sambil tersenyum riang. “ToD mau nggak?”
“Boleh. Gue T,”
“Lo suka sama Gaby?”
Deg. 1, 2, 3. Jantungku berdegup kencang. Aku nggak pengen terlalu mengharap lagi, Bi.
“Ya. Gue suka sama Gaby,”
Ziinngggg
waktu serasa berhenti berputar. Tubuhku dingin, kaku, kaku… sekali.
“Al,”
Aku langsung tersadar. “Iya? Gue T.”
“Lo suka sama siapa?”
Aku terdiam. ‘Bodo. ya sama lo lah, Bi.’
Aku menoleh, mata kami bertemu beberap saat yang lama. Plis, Bi, lidah gue kelu mau jawab. Kalo gue jawab Lo, gue takut itu bakal ngerusak persahabatan kita.
“Rafly. Ya kan?”
Rafly? Dia.. Mantanku. Kita putus karena alasan yang jelas. Kita satu sama lain udah ngerasa capek dan milih jalan sendiri dulu. Dia juga sahabatku. Dan kini, kami sekelas.
“Nggak, Bi. Gue lagi gak punya crush.” jawabku berbohong.
“Serius?”
“yap,” jawabku pelan.
“…”
Baik aku maupun Bian tak ada yang membuka suara. Aku hanya terdiam sambil duduk memeluk lututku dengan kepala tenggelam di kedua sisi lututku.
Aku melirik Bian, dia hanya duduk dengan kaki kiri ditekuk dan kaki kanan diselonjorkan. Pandangannya menerawang ke depan, kosong. Sebenernya, apa sih, yang lo pikirin, Bi?
Aku memejamkan mataku, mencoba mencerna kembali kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu.
“YA, GUE SUKA SAMA GABY.”
Kata-kata itu terus terngiang ngiang di telingaku. Satu fakta yang membuat segala harapanku pupus seketika, satu ucapan yang seolah membuat hatiku menyuruh menjauhinya, karena satu fakta yang meluruskan semuanya, bahwa Bian menyukai Gaby, bukan aku.
Aku membuka mataku kembali. Jemari tanganku dengan refleks menyentuh pipiku sendiri. Basah, aku.. Menangis?
Nggak, Aku Alda. Dan aku nggak akan nangis, ini bukan tangisan, ini cuman air yang keluar sedikit dari mata. Aku..
“Oke, Alda. Sadarkan diri lo. Udah lama kan, lo tau kalo Gaby emang suka sama Bian dan mereka saling ngasi sinyal? Bukannya lo udah biasa liat kayak gitu di kelas?” ucapan itu terpikir di benakku dengan sendirinya, seolah hatiku lah yang mengucapkannya. Aku hanya diam sambil memeluk lututku lebih rapat.
Dan hati ini berbisik lagi, “Lo bercanda tiap hari sama Bian bukan berarti Bian suka, Al. Dan lo sama sekali bukan tipe crush Bian. Tapi lo itu temen terbaik Bian, lo itu sahabatnya. Dan sahabat itu statusnya lebih berharga dibanding pacar. Karena lo selalu ada disaat dia senang maupun sedih, dan kalo dia ada masalah sama pacarnya, dia curhat ke siapa? Jawabannya lo, Al!
Cowok nggak setiap saat terlalu tertutup, Oke, Bian masih belum punya masalah berat. Tapi suatu saat dia pasti butuh lo, sahabat terbaiknya. Yang selalu bikin dia ketawa, yang selalu bikin moodnya naik, yang nggak pernah bikin dia bosen. Dan semua fakta itu ada di diri lo, Alda! Bukan Gaby!”
Aku merenunginya. Kata-kata itu.. Keluar dari hatiku sendiri, hanya tersalur dengan sendirinya melalui bisikan ke telingaku.
“Inget nggak pas di kelas, dia selalu bosen karena nggak disapa Gaby dan lo selalu ngalihin perhatian Bian dan bikin moodnya naik lagi? Lo inget gak moment lo yang penuh tawa sama dia? Al, sadar. Lo lebih baik gak usah maksain perasaan lo, biarkan dia memilih jalannya sendiri. Dan biarin perasaan lo mengalir dan lama lama menghilang. Al, lo itu Alda yang kuat, yang selalu optimis sama diri lo. Jadi yakinin diri lo, Al.”
Aku mengangkat kepalaku, menoleh ke arah Bian untuk beberapa saat. Lalu ia menoleh kepadaku, dan mata kami saling bertemu.
Untuk kesekian kalinya, kami saling melempar senyum satu sama lain.
Senja mulai datang, warna oranye bercampur dengan ungu dan biru mewarnai langit berawan di tasku. Kami menikmatinya penuh dengan tawa dan obrolan konyol seperti biasanya. Dan ketika matahari tenggelam, baik Aku dan Bian saling tersenyum takjub memandang keindahannya.
“…”
Bian menoleh padaku, aku membalas tatapannya seraya tersenyum senang.
Dan mulai saat itu, detik itu, Bian telah memberiku kenyataan yang membuatku sadar tentang diriku sendiri, walaupun harus menerima kenyataan pahit, namun itu menjelaskan bahwa aku, tak bisa memaksakan perasaan ini kepadamu. Biarkan perasaan ini mengalir sendirinya, Biarkanlah hanya Aku dan Tuhan yang mengetahuinya. And I’m still love you even if it hurts~
**END**
karangan : Sae Rizkina Ramada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar